Review Novel : Pergi - Tere Liye

Hai! Setelah sekian lama akhirnya aku bisa baca novel lagi dan baru aja nyelesaiin salah satu karya terbarunya Tere Liye yaitu Pergi. Walaupun udah terbit cukup lama dan pasti udah banyak banget yang selesai baca duluan daripada aku, aku tetap akan membagikan pengalaman dan perasaan aku saat dan selesai membaca satu lagi karya luar biasa dari Tere Liye ini! Dibaca ya!

Cover Depan [PERGI]
Cover Belakang [PERGI]
Sejujurnya aku terkejut pas waktu itu buka salah satu situs jual buku online yang memang biasanya suka aku pantengin, oh ya FYI aja aku lebih suka beli buku online karena biasanya selalu ada diskon, lumayan gede (sekitar 10-20%), terus tiba-tiba ada buku baru dari Tere Liye judulnya Pergi. Kenapa terkejut? Karena waktu itu sudah beredar kabar bahwa Darwis, nama asli dari Tere Liye, itu udah nggak mau ngeluarin alias nerbitin buku secara fisik lagi. Tapi buktinya sekarang terbit kok dan aku bersyukur banget masih bisa menikmati karyanya beliau.

Pergi merupakan sekuelnya dari novel Pulang yang sudah diterbitkan terlebih dahulu sekitar dua tahun yang lalu. Sebenarnya kalau nggak baca Pulang kalian masih bisa menikmati novel ini kok, karena di dalam novel ini sang penulis selalu memberikan beberapa detail yang sebenarnya ada di novel Pulang agar pembaca bisa membaca dengan leluasa dan tidak terputus, secara juga bagi pembaca Pulang pasti udah ada yang lupa-lupa sedikitlah ceritanya, udah dua tahun yang lalu gitu ya. Tapi bakalan lebih afdol kalau misalnya sudah baca Pulang, ini highly recommended banget, bukan hanya karena Pulang adalah novel terfavorit aku dari semua novel Tere Liye, tapi juga karena kalau kalian baca novel Pergi ini duluan pasti tetap akan penasaran sama cerita sebelumnya di novel Pulang yang dikutip-kutip di dalam novel ini. Faktor lain juga ada beberapa istilah dan jalan cerita kayak apa itu shadow economy yang nggak dijelaskan ulang di sini (asumsinya mungkin memang karena pembaca udah membaca Pulang kali ya).

Halaman Pertama dan Pembatas Buku [PERGI]
Seperti biasa, Tere Liye menggunakan kata-kata yang sangat ciamik dalam mendeskripsikan setiap bagian dari cerita, membuat kita serasa terjun ke sebuah dunia baru padahal kita belum pernah pergi ke tempat itu. Latarnya banyak di luar Indonesia, seperti Macau, Hongkong, Singapura, Meksiko, Moscow ataupun Jepang. Tentunya aku belum pernah ke sana selain ke Singapura, tapi kita serasa diajak membayangkan semua tempat itu dengan setiap detail kebudayaannya yang sangat diperhatikan di sini. Setiap detail aksi yang dilakukan oleh si Bujang juga terasa sangat nyata dan keren, membuatku kerap kali berteriak kegirangan dalam hati (maafkan fangirling). Oh iya, novel ini novel action, jadi jangan mengharapkan banyak adegan romantisnya ya. Ada sih paling cuma bagian soal cinta sejati bapak (Samad) kepada mamaknya Bujang (Midah). Itu aja, jangan berharap Si Babi Hutan mencari cinta sejati juga di novel ini hehe.

Jalan ceritanya ringkas sebenarnya, sama seperti Bujang yang orangnya cepat dan to the point, namun tetap sarat akan makna. Banyak banget pesan moral yang dapat kita petik dari buku ini. Yang paling ditekankan dalam buku ini adalah menentukan tujuan hidup, arah kemana kamu akan pergi, apalagi ketika kamu terombang-ambing oleh tanggung jawab dan ekspektasi. Kita senantiasa diajarkan untuk bersyukur dan pantang menyerah menentukan, memperjuangkan, mencapai tujuan hidup. Yang aku suka adalah Tere Liye selalu menyajikan sesuatu yang konkrit seperti penggambarannya dimana Bujang yang galau akan kemana dia akan membawa Keluarga Tong, kemana dia akan pergi. Hal ini memperlihatkan kepada kita bahwasanya memang benar banyak di antara kita yang masih sering bingung akan tujuan hidup kita, kemana kita akan melangkah selanjutnya. Digambarkan juga dalam cerita bahwa manusia sering kali kalap dan gelap mata apabila sesuatu atau seseorang yang berharga dalam kehidupannya direngut dari bagaimana Bujang nantinya membalaskan dendam orang-orang yang tewas karenanya. Novel menceritakan persahabatan, perjuangan, kasih sayang, berambisi yang baik dan tak lupa juga bersyukur kepada Tuhan.

Aku paling suka bagian Salonga yang menceritakan dongeng "Dua Petani". Ceritanya bisa dibaca di novelnya aja langsung:) Intinya ada dua orang petani dengan lahan dan segala sesuatunya yang sama, ditanya tentang bagaimana perasaan mereka sekarang. Petani pertama menjawab bahwa ia bahagia dengan segala kesederhanaan itu, bisa bangun pagi, makan, terus menggarap sawahnya, pulang, menikmati malam, kemudian berlanjut terus seperti itu. Sedangkan petani kedua menjawab bahwa ia tidak ingin menjadi petani yang biasa saja, ia ingin lebih. Sehingga akhirnya si petani kedua ini berusaha memajukan usahanya, membeli teknologi untuk mengolah padinya dan membangun pabrik. 40 tahun kemudian kedua petani ini ditanya lagi dengan pertanyaan yang sama. Petani pertama menjawab dengan jawaban yang sama, bahwa ia bahagia dengan semua rutinitas yang sama. Hal yang berbeda dirasakan oleh petani yang kedua, walaupun ia telah menjadi petani yang sukses, kaya raya, ia tetap merasa kosong, merasa masih ingin lebih. Ia tidak bahagia. Melihat petani yang pertama maka sadarlah si petani kedua bahwa ia telah menyia-nyiakan 40 tahunnya. Ia tidak menikmati dan tidak bahagia, padahal pada akhirnya yang terpenting adalah menikmati perjalanan hidup ini dan bahagia karena sejatinya tidak akan ada yang bisa ia bawa ketika ia mati, termasuk harta kekayaannya. Jujur dalam novel ini aku merasakan Bujang, yang bingung setengah mati menentukan kemana ia harus pergi, kemana ia harus membawa Keluarga Tong yang diamanatkan kepadanya pergi. Dan ketika membaca nasihat-nasihat yang diberikan baik oleh Tuanku Imam maupun Salonga, aku merasa bahwa masih banyak sudut pandang lain yang bisa kita ambil dalam melihat sesuatu, termasuk mendefinisikan benar atau salah, maupun apa itu kebahagiaan. Bagi kalian yang merasa butuh mendapatkan motivasi yang berbalut cerita seru tentang ninja, mafia, ataupun pertarungan antar keluarga internasional dalam shadow economy, cerita ini tepat untuk kalian lahap.

Baik buku Pulang maupun Pergi, keduanya telah menjadi buku wajib dalam rekomendasi buku Tere Liyeku bukan hanya karena aku suka wawasan Tere Liye yang sangat luas, beliau bisa mendeskripsikan berbagai bidang ilmu dengan sangat menarik dan masih sarat akan informasi (dalam kedua cerita ini condong ke perekonomian dunia yang terbalut dalam shadow economy, yang menurutku sangat menarik dan menurutku itulah cermin dari keadaan dunia saat ini), tetapi juga karena dalam kedua buku ini kalian bisa mendapatkan suguhan hiburan dan juga motivasi dalam saat yang bersamaan. Bujang akan selalu mempertanyakan kehidupan ini, yang akan membuat kita sadar akan apa yang selama ini luput dari perhatian kita ataupun bahkan membantu menjawab permasalahan yang sedang kita hadapi (mungkin sama dengan Bujang kan?). Novel karya Tere Liye memang paket komplitlah pokoknya.

Disamping gagahnya Bujang, Salonga, White, Yuki, Kiko, dan semua karakter yang ada dalam buku ini, yang tersampaikan dengan sangat baik dengan detail gerakan yang menurutku sangat hidup, yang membuatku sangat mencintai cerita ini, ada satu hal yang bisa dalam hitungan detik membuatku membenci novel Pergi ini. Endingnya. Aku beneran mengumpat ketika melihat endingnya. Ending termenyebalkan dari semua buku Tere Liye ataupun semua novel yang pernah kubaca. Aku tidak mau spoiler tentang apa yang terjadi, biarlah kalian merasakannya sendiri, tapi aku benar-benar sedih melihat ending yang sangat tidak sesuai ekspektasi tersebut. Agak dipaksakan menurutku, tapi juga membuatku bertanya-tanya tentang apa yang akan terjadi selanjutnya. Terlihat seperti akan dilanjutkan, semoga benar-benar akan dilanjutkan. Tolong Tere Liye, aku ingin lihat Bujang lagi:(

Bagaimana teman-teman? Pasti penasarankan? Langsung aja cus cari bukunya, pinjam atau beli asalkan jangan mencuri ya:) Worth it, nggak usah takut rugi, apalagi kalau kamu pecinta cerita action yang masuk akal dan tidak dibuat-buat dengan kekuatan supernatural. Cerita ini akan menambah pengetahuanmu dan membuka mata hatimu tentang banyak hal yang sedang terjadi di dunia ini. Selamat membaca!

Comments

Popular posts from this blog

Masuk SMA Taruna Nusantara tuh gimana sih, kak?

Pabrik MTI 2018